Oleh: Edi Sutiyo, SH ( Pemerhati Sosial/ Ketum Simpe Nasional dan Pembina JARI)
CEO GROUP | Sumedang, Siapa sebenarnya itu pemimpin, dalam berbagai prespektif pemimpin selalu menjadi episentrum dalam sebuah peradaban, sejarah mencatat bahwa setiap zaman melahirkan pemimpin dan tidak semua pemimpin mampu melahirkan dan menciptakan sejarah yang agung bagi rakyatnya.
Pemimpin berangkat dari kekuatan suci, berakar pada nilai nilai, karakter, yang merupakan manifestasi dari suatu cita cita luhur yang hadir di setiap rakyat.
Menurut filosofi, pemimpin adalah seseorang yang tidak hanya memegang kekuasaan atau mengatur kelompok, melainkan agen moral dan intelektual yang berorientasi pada kebajikan, kebijaksanaan, serta kesejahteraan bersama.
Sumber pemikiran filosuf kuno bisa menjadi sudut pandang bagi Assenment terhadap seorang pemimpin, ada 2 filosuf yunani yang mewarnai khazanah tentang pemimpin, Menurut Plato, seorang pemimpin sejati harus memiliki kebijaksanaan (sophia) dan pemahaman yang mendalam tentang kebaikan sejati agar mampu memimpin secara adil, kebijaksanaan dan kebaikan sejati itu watak dasar seorang pemimipin menurut plato
Sedangkan menurut Aristoteles, kepemimpinan berpusat pada etika kebajikan (virtue ethics). Pemimpin yang ideal adalah orang yang memiliki karakter bajik (virtuous), di mana ia melakukan kebaikan bukan demi pujian atau kehormatan, melainkan karena nilai kebaikan itu sendiri.
Pemimpin harus meneladani sifat bumi yang kokoh dan memberi kebutuhan hidup, serta matahari yang memancarkan energi, visi, serta arah bagi pertumbuhan orang lain, esensi moral dan karakter
Secara filosofis, kepemimpinan adalah manifestasi dari integritas. Pemimpin tanpa karakter yang kuat dianggap rapuh secara moral dan berbahaya bagi kelompok yang dipimpinnya.Kompas utama seorang pemimpin adalah seperangkat nilai dan prinsip hidup yang konsisten, sehingga menciptakan kredibilitas dan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.
Lalu bagaimana jika pemimpin sudah melanggar etik dan moral, kembali menurut Aristoteles politik dan moralitas tidak bisa dipisahkan. Pemimpin yang ideal harus memiliki arete (kebajikan) dan phronesis (kebijaksanaan praktis).
Sudut Pandang: Pemimpin yang melanggar moral telah gagal menjadi teladan warga negara. Ketika pemimpin kehilangan kebajikannya, ia akan membawa masyarakat menuju kemerosotan moral (moral decay), karena masyarakat cenderung meniru perilaku pemimpinnya.
Lalu masihkah berharap dengan pemimpin yang sudah gagal menjadi teladan bagi rakyatnya?***

0 Komentar